PerkututSby

Info perkutut bangkok, perawatan & tips burung perkutut bangkok

Perkutut bangkok vs lokal

 

Perkutut bangkok pada awalnya belum sepopuler saat ini, akan tetapi dahulu kala yang mendominasi lomba (kontes) perkutut adalah perkutut lokal. Hingga suatu ketika ada larangan dari Menteri Negara Urusan KLH, yang tidak mengijinkan adanya kontes burung perkutut yang bukan dari hasil ternak demi menjaga kelestarian burung perkutut di alam Indonesia.

Perkutut lokal pada masa tersebut belum banyak yang bisa diternak. Hal ini mungkin di sebabkan masih melimpahnya perkutut di alam. Karena itulah Indonesia lalu kedatangan perkutut asal Thailand yang biasa di sebut perkutut bangkok untuk memenuhi kebutuhan perkutut untuk lomba dan perkutut untuk bahan materi ternak.

Perkutut juga sebenarnya bukanlah hanya sebatas burung perkutut bangkok dan perkutut lokal yang hanya ada di Indonesia saja. Burung perkutut sebenarnya tersebar mulai dari Thailand Selatan, Tenasserim, Semenanjung Malaysia dan Singapura hingga kepulauan di Indonesia dari Sumatera dan Jawa, Kalimantan, Bali, Lombok, dan pulau-pulau di Filipina.

Perkutut juga merupakan salah satu burung yang jumlahnya paling melimpah di beberapa tempat seperti Hawaii dan Seychelles. (Sumber wikipedia)

Perkutut bangkok dan kelebihannya

Perkutut bangkok asal Thailand ini memiliki beberapa kelebihan jika di banding dengan perkutut lokal. Kelebihan perkutut bangkok antara lain adalah suara perkutut bangkok lebih besar dan cenderung ngebas, juga bermental kuat sehingga lebih tangguh dan mudah beradaptasi ketika di lombakan.

Karena sebab itulah perkutut bangkok (perkutut asal Thailand) pun terangkat dan mulai merajai gelanggang kongkrus perkutut di Indonesia.

Dan sudah tidak bisa di pungkiri lagi bahwa perkutut juara (setidaknya 20 puluh tahun belakangan ini) pasti merupakan perkutut bangkok (setidaknya keturunan murni dan bukan silangan dengan jenis lokal alam). Tidak masalah bahwa burung tersebut adalah perkutut import kelahiran asli thailand maupun produk peternak lokal yang sesungguhnya merupakan hasil ternakan dari indukan perkutut bangkok.

Yang jelas jika kita bicara tentang perkutut lokal menjadi juara adalah hal yang mustahil terjadi. Yang saya maksud sebagai perkutut lokal disini adalah perkutut asli indonesia yang belum ada campuran darah dengan perkutut bangkok seperti perkutut hasil tangkapan hutan.

Persepsi pengertian perkutut bangkok dan lokal yang rancu

Saat ini sering terjadi perbedaan pendapat mengenai perkutut lokal, yaitu apakah yang di maksud perkutut lokal adalah perkutut asli indonesia atau perkutut hasil ternakan indonesia. Hal ini sangat rancu jika di bahas secara sekilas saja. Namun menurut saya yang di maksud perkutut bangkok adalah perkutut yang merupakan hasil budidaya di bangkok dan termasuk keturunannya kebawah meskipun merupakan kelahiran indonesia selama belum di kawin silang dengan perkutut asli Indonesia.

Sebagai contoh perkutut kandang terminal TP 666 (ternakan surabaya) adalah merupakan anakan perkutut bangkok import dari KPP 13 dan KPP 84. KPP, jadi anaknya adalah perkutut bangkok namun merupakan produk peternak lokal. Meskipun tidak bisa di pungkiri bahwa ada saja kung mania yang merasa bahwa TP 666 adalah burung lokal mungkin karena saking cintanya dengan negeri ini.

Namun begitu kita harus sadar bahwa IGUANA tetap harus bernama IGUANA dan walaupun di ternak di Indonesia tidak serta merta berganti nama menjadi BUNGLON atau KADAL.

Sebagai contoh lagi untuk seekor perkutut dengan ring MMC N2 (ternakan thailand selatan) adalah merupakan anak dari TPP T9 (ring Thailand) dan TP 222 (ring ternakan Indonesia). Apakah akan kita sebut sebagai silangan lokal padalah TP 222 indukannya keatas adalah burung asal Thailand (bangkok)?

Dulu TP 666 banyak di eksport dan di pakai sebagai indukan di kandang-kandang peternak top di thailand seperti MLT. Misalkan TP 666 yang dibeli orang thailand di jodohkan dengan TP 222 yang notabene keduanya adalah produk surabaya lalu anaknya lahir di thailand bergelang MLT, apakah anak perkutut tersebut di sebut perkutut bangkok atau jenis lokal ?

Kandang MLT 2 dulupun sempat bermaterikan MLT 1 dan TP 666, apakah anaknya akan di sebut perkutut silangan padahal keduanya membawa gen perkutut thailand 100% ?

Dan akankah lele bangkok, jambu bangkok, pepaya bangkok jika sudah di budidaya di indonesia di sebut sebagai lele lokal, jambu lokal dan pepaya lokal padahal kualitas dan ukurannya sangat berbeda jauh dengan lele kali, jambu biji dan pepaya asli indonesia ?

Jangan samakan perkutut hutan indonesia dengan perkutut turunan bangkok yang lahir di indonesia dalam satu istilah “perkutut lokal” karena kedua jenis tersebut sudah sangat berbeda secara fisik dan kualitas suaranya. Sebutlah dengan istilah perkutut lokal untuk perkutut asli tangkapan hutan.

Dan saya yakin 99% perkutut yang beredar di pasar (yang menggunakan ring kaki) adalah perkutut keturunan bangkok dan bukan murni keturunan perkutut hutan indonesia, rasanya tidak mungkin dengan darah yang mengalir adalah trah murni keturunan perkutut dari hutan indonesia bisa di rekayasa secara genetis oleh ahli ternak indonesia dan mampu bersuara besar dan postur tubuh menjadi besar seperti perkutut bangkok.

Untuk itu saya rasa perkutut ternakan indonesia (jika merupakan keturuan perkutut bangkok) janganlah di sebut sebagai perkutut lokal (apalagi jika bapak, ibu hingga nenek kakeknya burung import). Mereka tetap harus di sebut perkutut bangkok.

Perbedaan fisik perkutut lokal dengan perkutut bangkok

Berikut adalah perbedaan fisik secara umum pada kedua jenis burung perkutut tersebut.

  1. Tubuh lokal cenderung kecil dan pendek sedangkan pada jenis perkutut bangkok umumnya tubuh lebih besar dan panjang. Bahkan dalam beberapa kasus (terutama burung import trah2 yang sedang trend saat ini spt ring MLT, CC, DLK) perbedaan ukuran tubuh itu akan nampak sangat mencolok.
  2. Suara lokal lebih kecil (cempreng/nyempling) sedangkan pada jenis perkutut bangkok suaranya lebih besar (ngebass). Barangkali bisa di ibaratkan jika kita mendengarkan suara radio jaman dulu (untuk perkutut lokal) di bandingkan dengan stereo set modern yang di lengkapi dengan sub woofer (perkutut import terutama trah CC, MLT, DLK dll).

Sebagai ilustrasi tambahan, di Thailand lomba burung perkutut di bagi menjadi 3 kelas. Yaitu kelas A (volume suara sangat besar), kelas B (volume suara besar atau sedang) dan kelas C (suara volume kecil). Nah suara burung lokal asli Indonesia saya kira masih belum bisa menyamai volume suara perkutut kelas C Thailand. Padahal kelas C adalah kelas yang paling kecil suaranya di Thailand.

Facebooktwittergoogle_pluslinkedin
Updated: Juni 9, 2018 — 22:47

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perkutut Sby © 2013 jasa penitipan hewan surabaya Frontier Theme